Sabtu, 27 Agustus 2016

Ayat ayat tentang fungsi komunikasi



       I.            PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena manusia itu sebagai makluk sosial, di antara yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbal balik.Dalam hubungan seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses komunikasi, hal itu tentunya tidak terlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan, dan juga untuk tercapainya proses penyampaian informasi. Ituakan berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai sarana penyaluran informasi atau berita.Dalam kenyataannya bahwa proses komunikasi itu tidak selamanya lancar, hal itu terjadi dikarenakan kurangnya memperhatikan unsur-unsur yang mestinya ada dalam proses komunikasi.
Begitu juga dengan kekuasaan Allah yang telah menciptakan berbagai macam suku, bahasa, ras, agama, dan lain sebagainya, yang mana semua itu memiliki perbedaan atau ciri yang khas. Oleh karena itu, dengan adanya komunikasi dapat membantu terciptanya persatuan dari beragam perbedaan tersebut.Dan dengan adanya komunikasi pula, dapat terwujudnya pertukaran antar budaya dan bahasa yang satu dengan yang lainnya. Dapat kita lihat dalam kehidupan nyata, bahwasannya komunikasi itu sangat penting kegunaannya dalam segala aspek di kehidupan manusia.
Dengan demikian, kami sebagai pemakalah akan mencoba untuk menerangkan lebih lanjut tentang fungsi komunikasi yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat dan Ar-Rum.

    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimanakah penjelasan tentang surat al-Hujarat ayat 13 ?
B.     Bagaimanakah penjelasan tentang surat ar-Rum ayat 22 ?



 III.            PEMBAHASAN
A.       Pembahasan Surat Al-Hujarat Ayat 13
$pkšr'¯»tƒâ¨$¨Z9$#$¯RÎ)/ä3»oYø)n=yz`ÏiB9x.sŒ4Ós\Ré&uröNä3»oYù=yèy_ur$\/qãè䩟@ͬ!$t7s%ur(#þqèùu$yètGÏ94¨bÎ)ö/ä3tBtò2r&yYÏã«!$#öNä39s)ø?r&4¨bÎ)©!$#îLìÎ=tã׎Î7yzÇÊÌÈ
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pada ayat  ini menjelaskan tentang prinsip dasar hubungan antar manusia. Karena itu ayat di atas tidak lagi menggunakan panggilan yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman, tetapi kepada jenis manusia.
Penggalan pertama ayat di atas “Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan” adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia derajat kemanusiaannya sama di sisi Allah SWT, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan suku yang lainnya. Tidak ada juga perbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan, karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan.
Ayat ini menegaskan bahwa kesatuan asal usul manusia dengan menunjukkan kesamaan derajat kemanusiaan. Tidak wajar seseorang berbangga dan merasa diri lebih tinggi dari yang lain, bukan saja antar satu bangsa, suku, atau warna kulit dengan selainnya, tetapi antara jenis kelamin mereka.[1]
Allah pun menurunkan ayat ini sebagai cegahan bagi mereka dari membanggakan nasab, mengunggul-unggulkan harta dan menghina kepada orang-orang fakir. Dan Allah menerangkan bahwa keutamaan itu terletak pada taqwa.
Diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada pangkat-pangkat kalian dan tidak pula kepada tubuhmu, dan tidak pula kepada hartamu, akan tetapi memandang kepada hatimu. Maka barangsiapa mempunyai hati yang saleh, maka Allah belas kasih kepadanya. Kalian tak lain adalah anak cucu Adam. Dan yang paling dicintai Allah di antara kalian ialah yang paling bertaqwa di antara kalian”.[2]
Kata ( تعارفوا ) ta’arafudiambil dari kata ( عرف) ‘arafa yang berarti mengenal. Kata yang digunakan ayat ini mengandung makna timbal balik, dengan demikian dapat diartikansaling mengenal.
Semakin kuat pengenalan satu pihak kepada lainnya, semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat. Karena itu ayat di atas menekankan perlunya saling mengenal. Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak lain, guna meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. Kita tidak dapat menarik pelajaran, tidak dapat saling melengkapi dan menarik manfaat bahkan tidak dapat bekerjasama tanpa saling mengenal.
Demikian juga halnya dengan pengenalan terhadap alam semesta. Semakin banyak pengenalan terhadapnya, semakin banyak pula rahasia-rahasianya yang terungkap, dan ini pada gilirannya melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menciptakan kesejahteraan lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Kata ( اكرمكم) berasal dari kata ( كرم) yang pada dasarnya berarti yang baik dan istimewa sesuai objeknya. Manusia yang baik dan istimewa adalah yang memiliki akhlak yang baik terhadap Allah, dan terhadap sesama makhluk.
Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari bahkan bersaing dan berlomba menjadi yang terbaik. Banyak sekali manusia yang menduga bahwa kepemilikan materi, kecantikan serta kedudukan sosial karena kekuasaan atau garis keturunan, merupakan kemuliaan yang harus dimiliki dan karena itu banyak yangberusaha memilikinya. Tetapi bila diamati apa yang dianggap keistimewaan dan sumber kemuliaan itu, sifatnya sangat sementara bahkan tidak jarang mengantar pemiliknya kepada kebinasaan. Kemuliaan adalah sesuatu yang langgeng sekaligus membahagiakan secara terus-menerus. Kemuliaan abadi dan langgeng itu ada di sisi Allah SWT dan untuk mencapainya dengan mendekatkan diri kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya serta meneladani sifat-sifat-Nya sesuai kemampuan manusia.Itulah taqwa, dan dengan demikian yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.
Dan untuk penutup ayat ini mengisyaratkan bahwa apa yang ditetapkan Allah menyangkut esensi kemuliaan adalah yang paling tepat, bukan apa yang diperebutkan oleh banyak manusia, karena Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal. Dengan demikian manusia hendaknya memperhatikan apa yang dipesankan oleh Sang Pencipta.[3]
Dengan demikian, fungsi komunikasi yang dapat di ambil dari penjelasan ayat tersebut yakni, adanya rasa saling mengenal satu sama lainnya, yang mana dapat menghapuskan rasa iri, dengki, dan sifat-sifat tercela lainnya. Dan rasa saling mengenal itu sangat penting dalam kehidupan manusia, karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dengan demikian, dapat terwujudnya suatu kedamaian dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

B.       Pembahasan Surat Ar-Rum Ayat 22
ô`ÏBur¾ÏmÏG»tƒ#uäß,ù=yzÏNºuq»yJ¡¡9$#ÇÚöF{$#urß#»n=ÏG÷z$#uröNà6ÏGoYÅ¡ø9r&ö/ä3ÏRºuqø9r&ur4¨bÎ)Îûy7Ï9ºsŒ;M»tƒUytûüÏJÎ=»yèù=Ïj9ÇËËÈ
Artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lain bahasa kalian dan warna kulit kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

Pada surat ini dijelaskan bahwa Allah telah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang agung ialah menciptakan langit dan bumi, yang penciptaan langit dengan ketinggiannya, keluasan hamparan atapnya, kecemerlangan bintang-bintangnya yang tetap dan yang beredar serta penciptaan bumi dengan kerendahan dan ketebalannya serta kandungan-kandungannya yang berbentuk gunung, laut, padang pasir, hewan, dan pohon-pohon. Dan berlain-lain bahasa kalian dan warna kulit kalian, ada yang berbahasa Arab, berbahasa Prancis, berbahasa Romawi, berbahasa Hindi, dan bahasa-bahasa lain, di mana tidak ada yang mengajarkannya kecuali Allahdan berbagai warna kulit manusia yang berbeda. Seluruh penduduk dunia sejak diciptakan-Nya Adam hingga hari kiamat, semuanya memiliki dua mata, dua alis, hidung, dua buah pelipis, dan mulut serta satu dengan yang lainnya tidak memiliki kesamaan, bahkan dibedakan dengan jalannya, sikapnya, baik nyata maupun tersembunyi yang hanya dapat terlihat jika melalui perenungan, hal ini merupakan sesuatu yang penting sekali di dalam pergaulan hidup dan berbagai macam tujuan.[4]
Kata ( السنتكم ) alsinatikum adalah jamak dari kata ( لسان ) lisanyang berarti lidah. Ia juga digunakan dalam arti bahasa atau suara. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa tidak seorang pun yang memiliki suara yang sepenuhnya sama dengan orang lain. Seperti halnya sidik jari,tidak ada dua orang yang sama sidik jarinya.
Kata (للعالمين ) lil’alimin yang artinya bagi orang-orang yang alim yakni dalam pengetahuannya. Perbedaan bahasa dan warna kulit, hal ini cukup jelas terlihat dan disadari atau diketahui oleh setiap orang, apalagi kedua perbedaan tersebut bersifat langgeng pada diri setiap orang. Tetapi jangan duga bahwa tidak ada sesuatu di balik apa yang terlihat dengan jelas itu. Banyak rahasia yang belum terungkap, banyak juga masalah baik menyangkut warna kulit maupun bahasa dan suara yang hingga kini masih menjadi tanda tanya bagi banyak orang.[5]
Sesungguhnya pada hal-hal yang telah disebutkan tadi terkandung bukti-bukti yang jelas bagi orang-orang yang berilmu, yaitu mereka yang memikirkan tentang makhluk yang diciptakan oleh Allah. Maka mereka mengetahui dan menyimpulkan, bahwa Allah SWT tidak sekali-kali menciptakan makhluk-Nya secara cuma-cuma, tetapi Dia menciptakannya untuk tujuan hikmat yang mendalam, yang terkandung di dalamnya pelajaran bagi orang-orang yang menggunakan akal pikirannya.[6]
Rahasia kejadian langit dan bumi, perbedaan bahasa dan warna kulit, serta sifat-sifat kejiwaan manusia itu tidak akan diketahui, kecuali oleh orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ayat ini ditutup dengan sebuaharti dari penggalan sebuah ayat yang bertuliskan sebagai berikut : “sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui (berilmu pengetahuan).”[7]

 IV.            ANALISIS KETARBIYAHAN
Dari penjelasan ayat-ayat di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang bermanfaat, diantaranya :
1.        Terjalinnya persatuan dari berbagai macam perbedaan yang ada.
2.        Terjalinnya rasa saling mengenal antar manusia.
3.        Adanya perbedaan bahasa dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan.
4.        Adanya perbedaan warna kulit dijadikan sebagai perbedaan budaya yang dapat mengenalkan kita dengan budaya negara lain yang ada, melalui proses pertukaran budaya.

    V.            KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa fungsi komunikasi sangat penting dalam kehidupan manusia, yang mana dengan komunikasi itu dapat terciptanya rasa saling mengenal satu sama lain walaupun banyak terdapat perbedaan yang Allah ciptakan diantaranya perbedaan bahasa, warna kulit, dan Allah juga yang menciptakan langit dan bumi yang mempunyai perbedaan dalam peranannya dan kegunaannya.
Dengan adanya komunikasi tersebut perbedaan bahasa dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan, dan dapat dijadikan sebagai hubungan bilateral antar negara. Adanya perbedaan warna kulit juga dapat dijadikan sebagai bentuk adanya perbedaan budaya antar manusia di dunia, oleh sebab itu dapat dijadikan sebagai pengenalan dan pertukaran budaya antar bangsa dan negara.

 VI.            PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, dalam pembuatan makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan, kebenaran berasal dari Allah SWT dan kesalahan berasal dari kami. Oleh karena itu, kritik dan saran sangatlah kami harapkan untuk makalah kami yang selanjutnya agar dalam pembuatan makalah berikutnya akan menjadi lebih baik. Dan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita dan bermanfaat bagi kita sem

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, (Kairo: Muassasah Daar al-Hilaal, 1994)
Mushthafa, Ahmad, Tafsir al-Maraghi juz

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, volume 13, (Tangerang : Lentera Hati, 2008), hlm. 260-261
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi,juz 26, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993), hlm. 237
Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman  bin  Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, (Kairo: Mu-assasah Daar al-Hilaal, 1994M), hlm. 168-169.







[1]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, volume 13, (Tangerang : Lentera Hati, 2008), hlm. 260-261
[2]Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi,juz 26, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1993), hlm. 237
[3]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, volume 13, (Tangerang : Lentera Hati, 2008), hlm. 262-264

[4]Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman  bin  Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, (Kairo: Mu-assasah Daar al-Hilaal, 1994M), hlm. 168-169.
[5]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah vol. 11, (Jakarta : Lentera Hati, 2006), hlm. 38
[6]Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjamah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1989), hlm. 70-71.
[7]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jil.VII, (Jakarta : Lentera Abadi, 2010), hlm. 484